LancarJodoh











{Maret 8, 2009}   Sifat Malu yang Mulia

Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara,
sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya.
Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah
penciptaannya dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan
pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru merasa
malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat
mulia dan terpuji itu. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai saat ini
kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki.
Malu adalah Iman
Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter
degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan
sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh
Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Malu dan iman saling
berpasangan. Bila salah satunya hilang, maka yang lain turut
hilang.” (HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini
shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya)
Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah melewati seorang laki-
laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasululloh
Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Tinggalkan dia.
Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallaahu alaihi
wa Sallam bersabda, yang artinya: “Iman itu ada tujuh puluh bagian.
Yang paling tinggi adalah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah bagian dari
iman.” (HR: Bukhari)Malu, Kunci Segala Kebaikan
Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa.
Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa
malu yang dimilikinya.
Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya
terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan. Sebaliknya orang
yang tidak tahu malu dan terbiasa berbicara kotor maka pada dirinya
tidak akan ada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada
hanya kejahatan.”
Muhammad Ibnu Abdullah Al-Baghdadi melantunkan syair sebagai berikut:
“Bila cahaya wajah berkurang,
maka berkurang pula rasa malunya
Tidak ada keindahan pada wajah,
Bila cahayanya berkurang
Rasa malumu peliharalah selalu,
Sesungguhnya sesuatu yang menandakan kemuliaan seseorang,
Adalah rasa malunya.”
Bukannya Tidak Pede
Mempunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri,
minder, atau nggak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi
urung melakukan kebaikan, amal shalih, dan menuntut ilmu. Jika hal itu
terjadi pada diri kita, cobalah kita berintrospeksi, apakah sebenarnya
malu yang kita rasakan itu karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau
karena manusia. Misalnya saja kita malu memakai jilbab yang syar’I,
malu menunjukkan jati diri sebagai seorang Pria Muslim atau malu pergi
ke majelis ta’lim. Apakah malu yang demikian ini karena Alloh
Subhanahu wa Ta’ala atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kita
kepada selain-Nya? Padahal, malu kepada Alloh-lah yang seharusnya kita
utamakan. Bukankah Alloh-lah yang paling berhak kita malui?
Al-Qurthubi rahimahulloh berkata: “Al-Musthafa (Nabi Muhammad)
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang pemalu. Beliau
menyuruh (umatnya) agar mempunyai sifat malu. Namun satu hal yang
perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang
beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan
pegangan sesuai dengan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya:
“Dan Alloh tidak malu (menerangkan) yang benar” (QS: Al-Ahzab: 53)”.
Harus Ditumbuhkan
Pengunjung Media Muslim INFO yang tercinta… sifat yang mulia ini
selayaknyalah kita pupuk dengan baik dan kita jaga agar tidak musnah
dari diri kita. Berbahagialah kita, jika kita terlahir sebagai sebagai
seorang yang pemalu, yang berati kita telah mempunyai sifat dasar yang
baik. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada
Asyaj dari bani Anshar, yang artinya: “Pada dirimu ada dua sifat yang
Alloh Subhanahu wa Ta’ala sukai.” Maka ia bertanya, “Apakah itu, wahai
Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?” Rasululloh Shallallahu
‘alaihi wa Sallam menjawab; “Sabar dan malu”. Asyaj bertanya lagi,
“Apakah kedua sifat itu sudah ada sejak dulu atau baru ada?”.
Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sejak dulu.” Asyaj
berkata, “Puji syukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah
memberiku dua sifat yang Allah sukai ” (HR: Ibnu Abi ‘Ashim).
Jika memang kita rasakan sifat itu kurang pada diri kita, maka tidak
perlu khawatir karena sifat itu dapat ditumbuhkan. Dengan meningkatkan
iman, ma’rifatulloh, dan pendekatan diri kepada Alloh Subhanahu wa
Ta’ala sehingga dalam diri kita timbul kesadaran bahwa Alloh Subhanahu
wa Ta’ala senantiasa mengawasi, mengetahui segala sesuatu yang kita
kerjakan dan yang kita simpan dalam hati maka akan tumbuhlah malu
imani yang mampu mencegah seseorang berdosa karena takut pada Alloh
Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.